
Meliput Peristiwa Traumatik
Penulis: Pulih
Peristiwa Bom di hotel JW Marriot dan Ritz Carlton yang terjadi pagi hari ini, 17 Juli 2009 dapat dikategorikan sebagai peristiwa traumatik.Peristiwa traumatik dapat menimbulkan stres psikologis baik bagi korban, keluarga korban, orang-orang yang berada di sekitar kejadian, maupun jurnalis dan orang-orang yang melihat, mendengar peristiwa tersebut melalui media massa.
Anda sebagai jurnalis, ditugaskan ke lokasi untuk melakukan peliputan. Pada saat itu korban masih bergulat dengan penderitaannya dengan menyelamatkan diri dan harta bendanya. Pada saat seperti itu, apakah kita harus mengutamakan tugas jurnalistik lebih dulu atau mendahulukan ikut menolong korban? Naluri kemanusiaan kitalah yang akan menentukan, saat mana kita perlu mengutamakan kerja dan saat mana kita ikut membantu korban. Ada beberapa hal yang sepatutnya diperhatikan pers, khususnya media televisi, dalam meliput peristiwa traumatik.
(1) Mengutamakan keselamatan
Keinginan mengejar berita, yang eksklusif sekalipun, sebaiknya tetap tidak sampai melupakan faktor keselamatan. Saat kita meliput korban pengeboman, misalnya, pastikan bahwa posisi kita sendiri pada saat meliput, memotret atau mengambil gambar, relatif aman.
(2) Perhatian dan peka terhadap kondisi psikologis sumber berita
Menteri yang sedang menyampaikan kebijakan pemerintah, pengusaha yang sedang memperkenalkan produk baru, mahasiswa yang mengekspresikan kemarahannya terhadap para koruptor, atau korban perkosaan atau warga yang tertimpa bencana alam, kondisi psikologisnya pasti berbeda. Situasi akan menentukan cara wartawan menghadapi narasumber. Ingatlah, mereka korban. Perlakuan tidak simpatik dari jurnalis dapat membuat korban menjadi makin tertekan.
(3) Menghargai sikap korban
Tidak semua korban bisa dan mau berhadapan dengan wartawan. Entah karena penderitaan yang masih dialaminya atau tidak ingin membuat masalahnya jadi sangat meluas, atau mungkin saja korban bukannya tidak mau, tapi waktu dan tempat tidaklah tepat. Wartawan harus menghargai sikap itu.
(4) Memperkenalkan diri dengan jelas
Sebutkan identitas diri Anda secara jelas sebelum memulai wawancara, sekalipun tape recorder dan kamera yang kita bawa menunjukkan identitas media kita. "Saya wartawan dari Koran A, Radio B atau TV C. Saya ingin mewawancara menulis tentang..." Identitas lengkap perlu disampaikan agar korban tahu apa yang akan dilakukannya serta implikasi yang mungkin timbul akibatnya. Tidak semua orang mau masalah dan penderitaannya diungkap di media massa. Kita harus menghargai korban yang tidak mau diwawancarai karena mungkin takut dikenal pelaku kejahatan.
(5) Memberikan pengertian kepada korban
Untuk korban kasus-kasus peristiwa traumatik, keengganan terhadap wartawan bukan hanya soal waktu yang tidak tepat. Mungkin mereka khawatir akan dikenali para pelaku dan menjadi sasaran berikutnya. Jika memang informasinya sangat dibutuhkan dan penting dalam kasus tersebut, berikan jaminan kepada korban bahwa identitasnya akan dirahasiakan, entah dengan menyamarkan nama atau wajahnya akan dibuat kabur. Wartawan berhak merahasiakan narasumber dari pihak manapun.
(6) Memulai dengan ungkapan simpati
Untuk membuka suatu wawancara, mulailah dengan ungkapan simpati.
Seringkali, pernyataan "Saya ikut prihatin dengan yang Ibu/Bapak hadapi" bisa menjadi pembukaan yang bagus untuk melanjutkan pertanyaan menggali keseharian korban selama ini. Pastikan bahwa apa yang akan kita tulis tidak akan menambah penderitaannya, tapi justru sebaliknya. Ungkapan yang simpatik dan berempati kepada korban akan mempermudah wartawan mendapatkan informasi tentang suatu peristiwa.
(7) Tidak mulai dengan pertanyaan sulit
Setelah suatu kejadian hebat, korban tentu saja masih trauma. Mungkin hanya sedikit orang yang benar-benar terbiasa dengan situasi buruk semacam itu. Karena itulah, sodorkan pertanyaan awal dengan materi yang ringan. Bukalah wawancara dengan pertanyaan, "Bagaimana kondisi BapakIIbu/Saudara/i sekarang?" Setelah itu, bobot pertanyaan mulai ditingkatkan. Ibarat olahraga, ini semacam pemanasan (warming up). Pertanyaan semacam ini dapat menciptakan suasana akrab antara wartawan dan korban sebagai narasumber.
(8) Menghindari pertanyaan mencecar
Cara bertanya dengan mencecar mungkin pantas diberikan kepada pejabat yang sedang menyampaikan kebijakan baru. Namun cara itu tidak sepatutnya diterapkan terhadap korban peristiwa traumatik. Sebaiknya kita tidak bersikap seperti polisi menginterogasi seorang tersangka. Kita bisa menggali informasi dengan cara yang lebih sopan dan baik dengan pertanyaan seperti: "Di mana Anda saat terjadinya tragedi?" Pertanyaan ini akan memberikan kesan seolah korban dijadikan saksi mata dan bukan tersangka.
(9) Banyak mendengarkan, bukan berbicara
Dengarkan apa yang diungkapkan narasumber. Kesalahan terbesar yang sering dilakukan wartawan adalah berbicara terlalu banyak selama wawancara. Harus selalu diingat, wawancara diperlukan untuk menggali sedalam mungkin informasi dari narasumber, bukan sebaliknya. Bisa saja wartawan berbicara lebih panjang, bila itu dapat membantu korban menangkap maksud pertanyaan atau menggali informasi lebih dalam. Terkadang narasumber ingin mengungkapkan perasaannya atas peristiwa yang menimpanya, dan itu dapat membantunya meringankan penderitaan atau kepedihan.
(10) Berhati-hati menyela pembicaraan
Bisa jadi jawaban yang diberikan korban keluar dari konteks atau melantur ke mana-mana. Bila ingin menyela kita harus mempertimbangkan banyak hal. Wartawan bisa mengingatkan korban dengan cara mengatakan, "Maaf Pak, maksud saya......" Cara menyela yang tidak tepat bisa membuyarkan konsentrasi narasumber, atau membuatnya tidak menghargai kita. Yang lebih buruk adalah bila narasumber akhirnya tidak bersedia untuk melanjutkan wawancara atau tidak mau memberikan informasi lagi.
(11) Mengetahui saat mulai dan berhenti
Kita tahu kapan wawancara dimulai, bisa diteruskan, dan kapan harus berhenti. Pada saat korban tak mau berkomentar dan mengatakan "Kami masih berduka," kita harus cukup arif menghentikan pertanyaan. Patutkah kita, mengajukan pertanyaan "Bagaimana perasaan Ibu atas musibah ini?" Saat korban mulai menangis dan tak karuan, patutkah kita terus memberondongnya dengan pertanyaan? Sikap ini berlaku tidak hanya saat mengajukan pertanyaan. Bila membawa kamera, sebaiknya wartawan tidak mengambil gambar korban atau narasumber dalam keadaan berduka, terluka ataupun tertekan.
(12) Menyampaikan terima kasih
Sampaikan terima kasih kepada narasumber yang telah kita wawancarai. Narasumber akan merasa sangat dihargai bila wartawan mengatakan hal ini. Kerjasama narasumber dalam membagi informasi pada saat terjadinya suatu tragedi amatlah bernilai.
(13) Memanfaatkan sumber alternatif
Bila korban dalam kondisi tidak siap menghadapi wawancara, wartawan tidak harus duduk berdiam diri atau apalagi sampai ikut larut dalam kesedihan. Wartawan bisa menyiasatinya dengan menggali informasi dari narasumber lain yang berkaitan dengan korban tersebut. Jika ingin mendapatkan data tentang profil korban, cobalah melakukan riset. Kalaupun tidak ditemukan, galilah dari kantor tempat korban bekerja. Untuk korban meninggal akibat penyakit, tanyalah kepada dokter yang merawatnya. Oleh karena tidak terlibat secara emosi, narasumber alternatif ini mungkin bisa menjelaskan secara lebih objektif. Kalau pun terpaksa, berbicaralah dengan salah satu anggota keluarganya yang terlihat lebih tegar.
Memuat Foto dan Penayangan Gambar
Seringkali gambar maupun foto dalam media cetak, memiliki implikasi yang sama besarnya dengan kata-kata. Jurnalis dapat menyampaikan pesan moral melalui foto dan rekaman gambar di televisi. Sebaliknya perlu diingat, gambar itu bisa membekas dan menancap di benak pemirsa dalam kurun waktu yang lama, dengan akibat yang bisa baik bisa pula buruk.
Berikut ini adalah beberapa kiat dalam menampilkan foto dan tayangan gambar yang baik:
1. Tanyakan dengan hati-hati, apakah korban mengalami trauma dengan sorot lampu atau suara blitz kamera.
2. Hati-hati menyalakan pemantik api. Mungkin narasumber merasa trauma dengan suara pemantik atau dengan api dan asap yang ditimbulkan dari batang rokok.
3. Perhitungkan dengan seksama, apakah korban masih trauma saat melihat kamera televisi dan kamera foto berukuran besar. Sebaiknya kameraman atau fotografer menyiapkan kamera cadangan yang lebih kecil.
4. Tayangkan gambar atau foto yang benar-benar mencerminkan esensi berita. Terkadang satu gambar bisa bermakna ganda. Misalnya foto pengungsi yang kelaparan, bisa menimbulkan rasa risih, tetapi juga mampu menarik simpati pembaca atau pemirsa dengan memunculkan daya tarik yang lebih kuat. Juga apabila kita bercerita soal pencari suaka yang sedang menuntut kehidupan yang lebih layak.
5. Tayangkan gambar yang benar-benar mempunyai relasi kuat dengan naskah berita. Penayangan gambar yang kurang sesuai bisa menumbuhkan asosiasi yang kurang baik bagi pembaca.
6. Periksalah ketepatan caption gambar. Ada baiknya melakukan konfirmasi silang kepada reporter yang sama-sama meliput. Dengan demikian, bias persepsi bisa dihindari.
7. Jangan mengulang-ulang tayangan foto dan gambar. Selain membuat bosan pembaca dan pemirsa, ia juga dapat memunculkan cap stereotipikal. Penisbatan cap buruk semacam ini patut dihindari.
8. Hati-hati ketika mengedit gambar. Teknologi mutakhir bisa membuat seseorang melakukan cropping (rekayasa). Salah-salah, foto dan gambar yang diedit bisa menghilangkan nilai jurnalistiknya.
9. Pilih gambar yang tidak menampilkan korban kekerasan secara vulgar. Kita perlu berhati-hati karena seringkali batas antara nilai jurnalistik dan eksploitasi adalah garis tipis.
Kiat menghadapi narasumber
1. Memperkenalkan diri dengan jelas dan sopan. Hindari kesan angkuh dan tidak simpati saat berbicara. Kesan awal akan menentukan pola komunikasi kita selanjutnya dengan narasumber.
2. Berpakaianlah dengan sopan atau setidaknya tidak menimbulkan persepsi negatif dari narasumber.
3. Hindari "jurnalisme keroyokan" dalam melakukan wawancara. Narasumber yang masih trauma bisa merasa menjadi pesakitan dengan perlakuan yang kurang simpati.
4. Jika narasumber yang masih trauma menolak diwawancara, bersikaplah arif. Katakan simpati Anda untuk mereka, dan berikan kartu nama. Suatu hari, jika sudah merasa lega, dia pasti akan menghubungi. Atau sebaliknya, jika Anda datang lagi kepadanya, dia akan mengingat Anda dan menerima dengan tangan terbuka.
5. Bilamana diperlukan, ajaklah dokter atau ahli medis untuk menemani wawancara. Dengan begitu narasumber merasa tenang dan nyaman.
6. Hati-hati menggunakan kata-kata seperti "korban", "tragedi", "cobaan", atau "ujian hidup." Intinya, pilih kata-kata yang menenangkan dan tidak cepat memberi label "trauma" pada para korban.
Membaca membuat mata cakrawalamu menyala
Categories
- Aku mencintai (1)
- Berbagi cerita (1)
- cinta (1)
- Cinta Dan Akal Sehat (1)
- curahan hati (2)
- dan cinta (1)
- hampa (1)
- Jurnalistik (2)
- kau dan aku (1)
- keabadian kenangan (1)
- Matematika (1)
- Meliput (1)
- Menulis (1)
- PALESTINA (1)
- pemimpin (1)
- Perbedaan suka (1)
- pertanyaan (1)
- Politik (1)
- private (1)
- Ramadhan 08 (1)
- Ramadhan Penuh Cobaan. (1)
- rinduku (1)
- Rully (2)
- Sajak (2)
- sayang (1)
- tanyakan (1)
- Tuntaskan Jerawat Punggung (1)
Links
Label: Jurnalistik, Meliput, pertanyaan
![]()
Sama seperti kulit tubuh yang lain, kulit punggung pun perlu dirawat. Setiap mandi, jangan lupa menggosok bagian punggung Anda. Meski sulit menjangkaunya, dengan bantuan alat hal itu bisa diatasi.
Gunakan spons panjang yang bertali di kedua ujungnya, agar dapat dengan mudah dipakai membersihkan punggung. Satu hal yang sering dilupakan dalam merawat punggung adalah mengeringkan bagian punggung dengan sempurna, setiap kali habis mandi ataupun berkeringat.
Hal ini dapat menyebabkan munculnya bakteri-bakteri yang dapat merusak penampilan punggung Anda, seperti jerawat. Air dan keringat yang menempel pada kulit, bila tidak segera dikeringkan, bisa menjadi sarang pertumbuhan jerawat punggung. Luluran adalah teknik perawatan yang paling pas.
Seluruh kulit mati yang masih menempel di tubuh, termasuk bagian punggung, bisa terbuang. Kulit baru yang masih segar, kencang dan mulus pun bisa muncul ke permukaan dengan lebih sempurna. Kelembapan kulit di bagian punggung harus dijaga agar kulit tidak kering dan bersisik. Jangan pernah lupa memberi pelembap di bagian punggung sesuai dengan jenis kulit.
Lakukan secara teratur setiap kali habis mandi. Sebaiknya, rajinlah mengoleskan tabir surya atau sunblock bila hendak keluar rumah dan saat berada di bawah terik matahari. Apalagi kalau kita memakai busana terbuka di bagian punggung. Mulai sekarang, rawatlah punggung Anda, agar terlihat seksi dan mulus.
Penggunaan shampo dan conditioner yang tak dibilas sampai bersih saat keramas juga dapat memicu timbulnya jerawat di bagian punggung. Maka, untuk mengantisipasi, pastikan membilas tubuh hingga benar-benar bersih setelah keramas.
Cara menghilangkan jerawat di tubuh sama dengan metode merawat wajah. Secara kimiawi, gosok dengan produk perawatan yang mengandung retinol atau salicylic acid. Ini perlu ketelatenan karena lokasi terkadang sulit dijangkau. Juga, karena kulit tubuh lebih tebal dibanding wajah, pengangkatan sel kulit mati dengan metode scrubbing atau dengan bantuan lopah bertangkai panjang bisa membantu mencegah timbulnya jerawat-jerawat kecil di punggung.
Jerawat bisa tumbuh dimana saja, tidak hanya di daerah wajah, bisa juga timbul di badan atau punggung karena disana pun terdapat kelenjar. Untuk mengatasi hal tersebut, Anda dapat melakukan body scrub secara rutin untuk mengangkat kotoran-kotoran yang tersumbat, mengangkat sel-sel kulit mati sehingga kulit lebih bersih dan halus.
Special tip: Jika Anda sudah melakukan hal ini selama 4 minggu dan tidak ada perkembangan. Konsultasikan kepada dokter spesialis kulit untuk mendapatkan resep antibiotik lain yang dapat membantu Anda.
Menanti "Sang Pemimpin"
Eep Saefulloh Fatah - Kompas
Demokrasi tak mengajarkan ketergantungan pada pemimpin. Akan tetapi, dalam situasi krisis, demokrasi senantiasa menempatkan pemimpin dalam pusat sorotan lampu. Di tengah krisis, pemimpin tak bisa menghindar dari posisi sebagai pembuat keputusan yang ditunggu.
Di tengah krisis ketersediaan dan lonjakan harga pangan dunia saat ini, wajar jika banyak orang di Indonesia mencemaskan akan datangnya krisis pangan. Di tengah lonjakan harga minyak dunia yang sempat mencapai 119,9 dollar AS per barrel, pantaslah jika publik mulai berspekulasi tentang kemungkinan kenaikan harga bahan bakar minyak dengan segenap konsekuensinya dalam waktu dekat.
Hari-hari ini, politik Indonesia pun dilanda kepastian tentang makin mendekatnya krisis sekaligus ketidakpastian mengenai kehadiran ”sang pemimpin”. Mengapa, ketika krisis begitu tegas, kehadiran sang pemimpin begitu samar-samar?
Tak mudah
Dalam situasi krisis, demokrasi di mana pun senantiasa menempatkan pemimpin dalam pusat sorotan lampu. Di tengah krisis, pemimpin tak bisa menghindar dari posisi sebagai pembuat keputusan yang ditunggu.
Sebagaimana digarisbawahi Arjen Boin dan kawan-kawan dalam The Politics of Crisis Management: Public Leadership under Pressure (2005), krisis menghadapkan pemimpin pada situasi yang tak mudah dan penuh risiko. Kesulitan dan risiko terutama menyelinap dari balik empat situasi khusus.
Pertama, keputusan pemimpin di saat krisis memiliki konsekuensi sangat tinggi. Keputusan itu akan berkait langsung dengan kepentingan masyarakat yang amat mendasar. Harga dari keputusan itu pun menjadi amat mahal. Keputusan itu punya risiko sosial, ekonomi, politik, dan kemanusiaan yang tidak main-main.
Kedua, krisis kerap menghadapkan pemimpin pada dilema. Keputusan yang diambilnya sangat boleh jadi akan menunjukkan ”pilihan barter”. Aspek politik diselamatkan (misalnya popularitas sang pemimpin), tetapi aspek ekonomi mesti dikorbankan. Bahkan, sang pemimpin akhirnya mesti mengambil ”pilihan tragis”, yakni tak mampu mengoptimalkan aspek mana pun.
Ketiga, krisis menghadapkan pemimpin pada ketidakpastian mengenai akhir dari masalah. Setiap kebijakan yang diambil akan ikut membentuk arah dan dinamika baru dari aspek-aspek dalam krisis itu. Maka, krisis mendesak pemimpin untuk mengambil tindakan berani. Pemimpin dituntut punya keberanian untuk mengelola dampak dan ekses dari langkah atau kebijakan yang diambilnya.
Keempat, krisis mendesak pemimpin untuk mengambil keputusan yang sigap. Tak ada kemewahan waktu. Tak ada peluang untuk terlampau memanjakan kehati-hatian yang berlebihan. Tak ada peluang untuk memanjakan ragu.
Keluar dari perangkap
Walhasil, dalam keadaan krisis, pemimpin berhadapan dengan situasi yang sama sekali tak mudah. Celakanya, kesulitan sang pemimpin hari-hari ini makin berlipat-lipat. Sebab, krisis pangan dan energi itu datang ketika pemilu sudah di ambang pintu.
Di satu sisi, krisis memaksa sang pemimpin mengambil kebijakan tepat dengan berani dan sigap. Sementara pemilu yang makin mendekat membikin sang pemimpin mematut-matut diri dengan hati-hati untuk menjaga popularitas secara saksama.
Krisis memaksa pemimpin untuk mengambil langkah-langkah berani dan luar biasa. Celakanya, langkah seperti itu kerap tidak populer. Maka, membuat langkah yang diperlukan untuk mengatasi krisis seolah-olah sama artinya dengan menggadaikan popularitas. Sementara itu, menggadaikan popularitas di tengah pemilu yang sudah begitu dekat bisa sama artinya dengan tindakan bunuh diri politik.
Inilah perangkap besar yang berpotensi mengurung sang pemimpin. Manakala sang pemimpin tak mampu keluar dari perangkap ini, ia terancam tak terasa kehadirannya secara fungsional dan sekadar hadir secara simbolik.
Kehadiran simbolik ditandai beragam bentuk, yakni keberadaan fisik sang pemimpin ke tengah masyarakat yang dirundung krisis, kunjungan ke lokasi bencana, dan pidato yang mengharu- biru. Sementara ”kehadiran fungsional” dibuktikan melalui aksi konkret, yakni langkah dan kebijakan yang tertata, terukur, dan mengatasi persoalan secara cepat, tepat dan cerdas.
Jika sang pemimpin gemar menghadirkan dirinya sekadar secara simbolik dan tak juga hadir secara fungsional, maka krisis bisa makin tak terkelola. Sang pemimpin pun berpotensi untuk terkena hantaman ganda: tersapu krisis sekaligus kehilangan popularitas.
Bahkan, manakala sang pemimpin tak juga menunjukkan kehadiran fungsionalnya, sederet pertanyaan serius akan diajukan publik.
Punyakah kita pemimpin? Di manakah ia berdiri? Apakah setelah 10 tahun menjalani demokratisasi dan punya empat presiden, kita tak juga punya pemimpin?
Label: pemimpin



Pemilu 2009 yang tinggal beberapa bulan lagi sangat menarik untuk dicermati
Tidak seperti pertarungan Pemilu 2004 yang lalu dimana tiga jenderal bertarung,
dan akhirnya seorang jenderal keluar sebagai pemenang pertempuran,
yaitu Jenderal Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
Pertempuran kali ini melibatkan empat jenderal, yaitu SBY, Wiranto, Prabowo dan Sutiyoso
Siapakah di antara mereka yang akan memenangkan pertarungan kali ini?
Apakah SBY dapat mempertahankan posisinya?
atau Ia akan dikalahkan pada pertempuran kali ini?
Kalau ia kalah, maka kalah dengan siapa?
Apakah Jenderal Wiranto bisa mengalahkannya?
Bagaimana dengan kuda hitam Jenderal Prabowo Subianto?
Apakah Prabowo memiliki peluang?
Label: Politik



Kalau ada ribut-ribut di negara- negara Arab, misalnya di Mesir, Palestina, atau Suriah, kita sering bertanya apa signifikansi dukungan terhadap Negara tersebut. Misalnya baru-baru ini ketika Palestina diserang. Ngapain sih mendukung Palestina?
Pertanyaan tersebut diatas sering kita dengar, terutama karena kita bukan orang Palestina, bukan bangsa Arab, rakyat sendiri sedang susah, dan juga karena entah mendukung atau enggak, sepertinya tidak berpengaruh pada kegiatan kita sehari-hari.
Padahal, untuk yang belum mengetahui.. kita sebagai orang Indonesia malah berhutang dukungan untuk Palestina.
Sukarno-Hatta boleh saja memproklamasikan kemerdekaan RI de facto pada 17 Agustus 1945, tetapi perlu diingat bahwa untuk berdiri (de jure) sebagai negara yang berdaulat, Indonesia membutuhkan pengakuan dari bangsa-bangsa lain. Pada poin ini kita tertolong dengan adanya pengakuan dari tokoh tokoh Timur Tengah, sehingga Negara Indonesia bisa berdaulat.
Gong dukungan untuk kemerdekaan Indonesia ini dimulai dari Palestina dan Mesir, seperti dikutip dari buku "Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri" yang ditulis oleh Ketua Panitia Pusat Perkumpulan Kemerdekaan Indonesia , M. Zein Hassan Lc . ? Buku ini diberi kata sambutan oleh Moh. Hatta (Proklamator & Wakil Presiden pertama RI), M. Natsir (mantan Perdana Menteri RI ), Adam Malik (Menteri Luar Negeri RI ketika buku ini diterbitkan) , dan Jenderal (Besar) A.H. Nasution.
? M. Zein Hassan Lc. Lt. sebagai pelaku sejarah, menyatakan dalam bukunya pada hal. 40, menjelaskan tentang peranserta, opini dan dukungan nyata Palestina terhadap kemerdekaan Indonesia , di saat negara-negara lain belum berani untuk memutuskan sikap.
Dukungan Palestina ini diwakili oleh Syekh Muhammad Amin Al-Husaini -mufti besar Palestina- secara terbuka mengenai kemerdekaan Indonesia :
".., pada 6 September 1944, Radio Berlin berbahasa Arab menyiarkan 'ucapan selamat' mufti Besar Palestina Amin Al-Husaini (beliau melarikan diri ke Jerman pada permulaan perang dunia ke dua) kepada Alam Islami, bertepatan 'pengakuan Jepang' atas kemerdekaan Indonesia. Berita yang disiarkan radio tersebut dua hari berturut-turut, kami sebar-luaskan, bahkan harian "Al-Ahram" yang terkenal telitinya juga menyiarkan." Syekh Muhammad Amin Al-Husaini dalam kapasitasnya sebagai mufti Palestina juga berkenan menyambut kedatangan delegasi "Panitia Pusat Kemerdekaan Indonesia " dan memberi dukungan penuh. Peristiwa bersejarah tersebut tidak banyak diketahui generasi sekarang, mungkin juga para pejabat dinegeri ini.
Bahkan dukungan ini telah dimulai setahun sebelum Sukarno-Hatta benar-benar memproklamirkan kemerdekaan RI. Tersebutlah seorang Palestina yang sangat bersimpati terhadap perjuangan Indonesia , Muhammad Ali Taher. Beliau adalah seorang saudagar kaya Palestina yang spontan menyerahkan seluruh uangnya di Bank Arabia tanpa meminta tanda bukti dan berkata: "Terimalah semua kekayaan saya ini untuk memenangkan perjuangan Indonesia ..."
Setelah seruan itu, maka negara daulat yang berani mengakui kedaulatan RI pertama kali oleh Negara Mesir 1949. Pengakuan resmi Mesir itu (yang disusul oleh negara-negara Tim-Teng lainnya) menjadi modal besar bagi RI untuk secara sah diakui sebagai negara yang merdeka dan berdaulat penuh. Pengakuan itu membuat RI berdiri sejajar dengan Belanda (juga dengan negara-negara merdeka lainnya) dalam segala macam perundingan & pembahasan tentang Indonesia di lembaga internasional.
Dukungan Mengalir Setelah Itu
Setelah itu, sokongan dunia Arab terhadap kemerdekaan Indonesia menjadi sangat kuat. Para pembesar Mesir, Arab dan Islam membentuk 'Panitia Pembela Indonesia ' . Para pemimpin negara dan perwakilannya di lembaga internasional PBB dan Liga Arab sangat gigih mendorong diangkatnya isu Indonesia dalam pembahasan di dalam sidang lembaga tersebut.
? Di jalan-jalan terjadi demonstrasi- demonstrasi dukungan kepada Indonesia oleh masyarakat Timur Tengah. Ketika terjadi serangan Inggris atas Surabaya 10 November 1945 yang menewaskan ribuan penduduk Surabaya , demonstrasi anti Belanda-Inggris merebak di Timur-Tengah khususnya Mesir. Sholat ghaib dilakukan oleh masyarakat di lapangan-lapangan dan masjid-masjid di Timur Tengah untuk para syuhada yang gugur dlm pertempuran yang sangat dahsyat itu.
Yang mencolok dari gerakan massa internasional adalah ketika momentum Pasca Agresi Militer Belanda ke-1, 21 juli 1947 , pada 9 Agustus. Saat kapal "Volendam" milik Belanda pengangkut serdadu dan senjata telah sampai di Port Said.
Ribuan penduduk dan buruh pelabuhan Mesir berkumpul di pelabuhan itu. Mereka menggunakan puluhan motor-boat dengan bendera merah-putih ?tanda solidaritas- berkeliaran di permukaan air guna mengejar dan menghalau blokade terhadap motor-motor- boat perusahaan asing yang ingin menyuplai air & makanan untuk kapal "Volendam" milik Belanda yang berupaya melewati Terusan Suez, hingga kembali ke pelabuhan. Kemudian motor boat besar pengangkut logistik untuk "Volendam" bergerak dengan dijaga oleh 20 orang polisi bersenjata beserta Mr. Blackfield, Konsul Honorer Belanda asal Inggris, dan Direktur perusahaan pengurus kapal Belanda di pelabuhan. Namun hal itu tidak menyurutkan perlawanan para buruh Mesir.
?Wartawan 'Al-Balagh' pada 10/8/47 melaporkan:
"Motor-motor boat yang penuh buruh Mesir itu mengejar motor-boat besar itu dan sebagian mereka dapat naik ke atas deknya. mereka menyerang kamar stirman, menarik keluar petugas-petugasnya, dan membelokkan motor-boat besar itu kejuruan lain."
Melihat fenomena itu, majalah TIME (25/1/46) dengan nada salib menakut-nakuti Barat dengan kebangkitan Nasionalisme- Islam di Asia dan Dunia Arab. "Kebangkitan Islam di negeri Muslim terbesar di dunia seperti di Indonesia akan menginspirasikan negeri-negeri Islam lainnya untuk membebaskan diri dari Eropa."
Melihat peliknya usaha kita untuk merdeka, semoga bangsa Indonesia yang saat ini merasakan nikmatnya hidup berdaulat tidak melupakan peran bangsa bangsa Arab, khususnya Palestina dalam membantu perdjoeangan kita..(Lihat? foto bung Hatta, Hj Agus Salim, Mufti Palestina, dan pemimpin Mesir di attachement supaya kita kenal wajah wajah dari tokoh pembela Indonesia ini)
? Statement Tokoh dalam buku ini:
Dr. Moh. Hatta
"Kemenangan diplomasi Indonesia yang dimulai dari Kairo. Karena dengan pengakuan Mesir dan negara-negara Arab lainnya terhadap Indonesia sebagai negara yang merdeka dan berdaulat penuh, segala jalan tertutup bagi Belanda untuk surut kembali atau memungkiri janji, sebagai selalu dilakukannya di masa-masa yang lampau."
A.H. Nasution
"Karena itu tertjatatlah, bahwa negara-2 Arab jang paling dahulu mengakui RI dan paling dahulu mengirim misi diplomatiknja ke Jogja dan jang paling dahulu memberi bantuan biaja bagi diplomat-2 Indonesia di luar negeri. Mesir, Siria, Irak, Saudi-Arabia, Jemen, memelopori pengakuan de jure RI bersama Afghanistan dan IranTurki mendukung RI. Fakta-2 ini merupakan hasil perdjuangan diplomat-2 revolusi kita. Dan simpati terhadap RI jang tetap luas di negara-2 Timur Tengah merupakan modal perdjuangan kita seterusnja, jang harus terus dibina untuk perdjuangan jang ditentukan oleh UUD '45 : "ikut melaksanakan ketertiban dunia jang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial" .?
" Perumpamaan kaum muslimin yang saling kasih mengasihi dan cinta mencintai antara satu sama lain ibarat satu tubuh. Jika salah satu anggota berasa sakit maka seluruh tubuh akan turut berasa sakit dan tidak dapat tidur. " (HR Bukhari)
Label: PALESTINA
Salah satu misteri Pulau Sulawesi adalah masyarakat adat Bajo yang bermukim di atas perahu, Mereka sepenuhnya hidup di atas air, Dan berkelana dari satu pulau ke pulau lain sebagai seanomedic. Di awal 90-an, Manusia perahu itu masih sering terlihat di perairan Teluk Bone. Dan singgah di pulau-pulau kecil di provinsi Gorontalo. Belakangan, para seanomedic itu dimukimkan oleh pemerintah ke daratan.
Bagian Pertama
Misteri suku bajo yang bermukim di atas perahu, senantiasa menarik perhatian para peneliti dan masyarakat di luar Pulau Sulawesi. Kehadiran manusia-manusia perahu itu seakan teka-teki, Yang mesti diburu kebenarannya. Kabar terakhir, para nelayan di kawasan Lasusua, Kabupaten Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara, masih melihat kehadiran seanomedic tradisional itu.
Jawaban terpasti, tentu saja, harus didapat dengan mendatangi langsung pulau-pulau yang biasa disinggahi oleh manusia-manusia perahu itu. Dan, untuk mempermudah penyusuran lokasi manusia perahu, kami juga mengirimkan seorang periset, untuk menyisiri perkampungan-perkampungan nelayan di Kabupaten Kolaka Utara dan Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara.
Saeba juga merupakan bagian dari suku Bajo. Di masa kanak-kanaknya, ia bermukim di Desa Maosangka, Pulau Muna. Ia memiliki teman kecil yang bermukim di atas perahu bernama Wabonde. Sebulan yang lalu, ia masih menjumpai Wabonde dengan perahu soppe-nya melintasi Desa Lore, Pulau Kabaena.
Sebelum menjemput Saeba di pemukiman suku Bajo di Kawasan Raha, Pulau Muna, kami menyusuri perairan Selat Muna dari Kawasan Kasipute, Kabupaten Bombana. Perjalanan dari Kawasan Kasipute menuju Kawasan Raha membutuhkan waktu sekitar empat jam.
Suku Bajo dikenal sebagai pelaut-pelaut yang tangguh. Namun, sejarah lebih mengenal suku Makassar, suku Bugis, dan suku Mandar, sebagai raja di lautan. Padahal, suku Bajo pernah disebut-sebut menjadi bagian dari Angkatan Laut Kerajaan Sriwijaya. Sejumlah antropolog mencatat, Suku Bajo lari ke laut, karena mereka menghindari perang dan kericuhan di darat. Sejak itu, bermunculan manusia-manusia perahu yang sepenuhnya hidup di atas air.
Sekitar tiga jam menyusuri perairan Selat Muna, akhirnya mempertemukan kami dengan warga suku Bajo di Pulau Pasir Padangan. Sebenarnya, pulau tersebut merupakan gusung (pulau karang). Karena itu, gusung ini menyimpan keindahan laut dengan terumbu karangnya dan pasir putih di atas pantainya. Suasana haru begitu terasa, tatkala anak-anak usia sekolah menyambut kami dengan penuh sukacita.
Iko-iko atau senandung yang dilantunkan oleh Nenek Monti adalah gambaran kekayaan budaya suku Bajo. Pada syair iko-iko terkandung kekayaan bahasa melayu kuno dan baong same (bahasa suku Bajo). Nama “bajo” diberikan oleh warga suku lain di Pulau Sulawesi sendiri atau di luar Pulau Sulawesi. Warga suku Bajo sendiri menyebut dirinya suku Same, dan mereka menyebut suku Bagai untuk warga di luar suku Same. Nama “bajo” sebenarnya berarti perompak atau bajak laut. Karena, Di zaman dulu, Kalangan perompak berasal dar suku Same. Belakangan, nama suku Bajo benar-benar menjadi pengganti nama suku Same. Uniknya, suku Same tersebar ke seluruh nusantara dengan sebutan suku Laut atau suku Bajo.
Temuan iko-iko di Pulau Pasir Padangan menjadi catatan penting kami. Lebih daripada itu, kami juga mendapatkan cerita anak-anak usia sekolah dengan kesederhanaannya, serta masalah-masalah sosial yang dialami warga suku Bajo di tempat tersebut. Lepas dari berbagai permasalahan warga di Pulau Pasir Padangan, kami kembali harus mengarahkan perhatian pada manusia perahu.
Dari Pulau Pasir Padangan, kami memutuskan untuk bergerak ke arah perkampungan nelayan di Kawasan Maosangke, yang berada di sebelah selatan Pulau Muna. Menurut perkiraan Saeba, Kawasan Maosangka merupakan tempat yang sering disinggahi suku Bajo seanomedic untuk mendapatkan air bersih.
Perlahan-lahan, perahu tim ekspedisi mulai memasuki Desa Kaudani di Kawasan Maosangke, Pulau Muna. Dulu, Saeba menjadi kepala desa di tempat tersebut. Saeba berharap, Wabonde, si manusia perahu, berada di desa tersebut. Rumah di atas air adalah wahana kesehari-harian warga tersebut.
Pada akhirnya, petunjuk mengarah ke rumah Nenek Lampala, janda tua yang selama ini hidup di atas air. Selama sepekan terakhir, kami memang lebih banyak mendapat informasi tentang Nenek Lampala, yang menyinggahi pulau-pulau di Teluk Bone dan Selat Muna.
Wabonde memang tidak ditemukan di Desa Kaudani. Beruntung, kami menjumpai Nenek Lampala. Meski ia telah bermukim di daratan, ia merupakan bukti adanya suku bajo seanomedic. Ironisnya, Ia ke darat, karena adanya iming-iming bantuan langsung tunai dari pemerintah. Maka, perjalanan mencari manusia perahu atau suku bajo seanomedic pun harus terus kami lakukan.
Kali ini, kami mencoba mencapai Pulau Kabaena. Sejumlah warga di Desa Kaudani menuturkan, mereka pernah menjumpai manusia perahu di kawasan itu.


